Pages

Tuesday, July 3, 2012

Biografi Novelis Arab


BIOGRAFI NOVELIS ARAB
OLEH:
LANDI PRATAMA
           

Banyak novelis yang terkenal dan berasal dari arab, diantaranya:

Biografi Fatima Mernissi[1]

Fatima Mernissi dilahirkan tahun 1940 di Fez, Maroko. Dia tumbuh dewasa di suatu harem bersama dengan ibunya, para nenek dan para saudari lainnya. Suatu harem yang di jaga dengan ketat oleh suatu penjagaan sedemikian rupa sehingga wanita-wanita tidak bisa lepas dari itu. Harem telah dengan baik dirawat dan dilayani oleh seorang pelayan pelayan wanita. Neneknya, Yasmina, adalah salah satu dari sembilan isteri tetapi nasib yang sama tidak jatuh atas ibunya. Bapaknya hanya mengambil satu isteri dan tidak memilih poligami sejak kaum nasionalis menolak poligami. Meskipun demikian, ibunya adalah orang buta huruf sebab dia menghabiskan semua waktunya di dalam harem.
Fatima beruntung walaupun hidup nya di dalam suatu harem, dia mendapat kesempatan untuk memperoleh suatu pendidikan lebih tinggi. Dalam bukunya The Harem Within (Di dalam Harem itu) , Mernissi menceritakan kepada kita sekitar masa kanak-kanaknya di dalam harem di Fez tetapi ini hanya bagian dari buku masa kanak-kanaknya yang tidak sebagus seperti yang dilukiskannya dalam buku itu.
Sejak dia kecil, Mernissi telah dilibatkan dalam pergolakan pemikiran nasional dan menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan liar sebagai contoh pada batas tertentu memaksakan antara anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan. Si kecil Mernissi bertanya, jika ada persetujuan batas antara anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan, mengapa hanya anak-anak perempuan saja yang ditutup dan dibatasi. Dia bersikap seperti itu (menanyakan) pertanyaan seperti itu kepada neneknya Yasmina yang tidak bisa menjawab karena itu adalah terlalu berbahaya untuknya.
Pada waktu itu dia juga mempunyai suatu hubungan ambivalen dengan agama, dalam kaitan dengan perbedaan dan tensi (pertentangan) antar perspektif Alqur'an yang dia persepsikan dalam sekolah Alqur'an dan apa diajar oleh neneknya. Dia diajar dengan keras di sekolah di mana dia harus menghafal Alqur'an setiap hari. Dia secara konstan dicaci maki, diteriaki dan dipukul ketika dia melakukan kesalahan. Dengan begitu dia memandang agama sebagai sesuatu yang menakutkan.
Di sisi lain, Mernissi kecil merasakan kecantikan agama melalui neneknya Yasmina, yang membimbingnya ke arah sisi agama yang puitis. Neneknya sering menceritakan cerita tentang hajinya dan dengan antusias menceritakan kepada Mernissi tentang Mecca Dan Medina.
Mernissi menyimpan sikap ini selama bertahun-tahun. Baginya, Alqur'an tergantung pada perspektif kita dan pada persepsi kita itu berangkat. Ayat-ayat yang kudus ini bisa menjadikan gerbang untuk lepas dari atau sebagai rintangan. Baginya, Alqur'an dapat memimpin kita ke arah mimpi atau merusak ketabahan kita.
Sementara itu, Ibu Mernissi selalu mengajarinya bagaimana cara bertindak dan membawa dirinya sebagai perempuan. Sang Ibu secara teratur menceriterakan kebijaksanaan. Sang Ibu, berkata bahwa kehidupan merindukan tugas seorang perempuan. Mernissi mengakui bahwa nenek dan ibunya itulah yang mendukungnya dalam mengusahakan suatu pendidikan lebih tinggi dengan demikian dia bisa mandiri.
Ketika Mernissi teenager (berumur belasan), dia mulai mendapatkan pelajaran religius. Dia menemukan pelajaran religius itu menyakitkan hatinya :
"….. Beberapa Haditss (tradisi kenabian) berasal dari Kitab Bukhari Yang diberitahu oleh para guru menyakiti aku. Mereka menyatakan bahwa Nabi berkata: " Anjing, Keledai Dan Perempuan akan menghalangi/menghambat doa seseorang kapan saja mereka lewat di depan nya, yang tiba-tiba memutuskan antara orang yang berdoa itu dengan kiblah." Aku terkejut mendengar haditss pendek seperti itu dan tidak pernah mengulangi nya dengan harapan diam akan menghapus Haditss ini ke luar dari pikiran ku. Aku bertanya, " Bagaimana mungkin Nabi berkata seperti itu Haditss yang sangat menyakiti aku... bagaimana bisa Muhammad yang terkasih menyakiti anak perempuan kecil yang sedang dalam perumbuhan, yang sedang mencoba untuk membuat dia sebagai pilar/sandaran/role of model dari mimpi romantisnya." ( Perempuan di dalam Islam, hal. 82)
Saat ini, Mernissi telah memperoleh S2 (master) nya dalam bidang politik dari Universitas Muhammad V di Rabat, Maroko, dan S3 / Phd dari Universitas Brandeis di Amerika tahun 1973. Disertasi nya, Beyond the Veil (Di luar Selubung), menjadi suatu buku pelajaran dan suatu acuan kunci di Barat tentang perempuan dan Islam.
Dan pada saat ini, dia bekerja sebagai seorang pemberi ceramah/ dosen Sosiologi pada Universitas Muhammad V Rabat di mana dia lulus. Dia terkenal sebagai Muslimah Pejuang hak wanita di Afrika Utara dan seorang aktifis terkemuka di Dunia Islam.

Pemikiran dan Karya
Karya Mernissi berasal dari pengalaman individunya yang mendorongnya untuk melakukan riset historis tentang berbagai hal yang sudah mengganggu pemahaman religiusnya. Sebagai contoh, di bukunya The Veil and Male Elite yang kemudian ia revisi kembali menjadi Women and Islam: A Historical and Theological Enquir (Wanita-Wanita Dan Islam: Suatu Enquir mengenai agama Dan histories), penyelidikanya tentang teks Alqur'an yang suci dan Hadits didasarkan pada pengalaman individu nya, perihal kejadian kasus Hadits pembenci wanita yang menyamakan posisi seorang wanita dengan anjing dan keledai itu .
Kesedihan Mernissi menjadi lebih dalam saat dia mendengar tentang Hadits mengenai kepemimpinan wanita. Motivasinya untuk menyelidiki Hadits semacam itu dengan serius dipicu oleh Hadits yang diucapkan oleh seorang pedagang di pasar yang menafikan kepemimpinan wanita. Dikejutkan oleh pertanyaan nya, pedagang itu mengutip Haditss yang mengatakan bahwa " tidak ada keselamatan di dalam masyarakat yang dipimpin oleh wanita." Bagi nya, hal ini menandakan bahwa Haditss-haditss di alamatkan kepada komunitas masyarakat muslim dan oleh karena itu kepemimpinan wanita masih dapat dibantah/ diperdebatkan di samping kasus Benazir Buttho yang menjadi perdana menteri Pakistan dan di samping fakta bahwa Alqur'an membahas kepemimpinan Ratu Bilqis.
Dia juga consern dengan perihal lain: hijab. Topik hijab telah mendominasi karier intelektual nya. Hujab, adalah sebuah instrumen pembatasan, pemisahan dan pengasingan yang digunakan untuk menjaga wanita-wanita ke luar dari area publik. Baginya, Hijab berarti pemisahan dan digunakan sebagai suatu medium pernyataan heirarchy antara para penguasa dan masyarakat.
Dia mengkomunikasikan pemahamannya melalui penafsiran Alqur'an dan Haditss dan melalui riset historis dan analisa kemasyarakatan. Golnya adalah untuk menyampaikan sebuah penafsiran alternatif melalui bukunya The Forgotten Queen in Islam (Ratu yang terlupakan dalam Islam) dan Islam and Democracy (Islam dan Demokrasi). Di dalam karya-karyanya ini dia mencoba untuk menunjukkan bahwa cacat di dalam Pemerintah Arab tidaklah inheren (yang tidak bisa dipisahkan) dengan pengajaran religius, tetapi ada kaitannya dengan manipulasi pengajaran religius para penguasa untuk kepentingan mereka sendiri. Meskipun demikian, Mernissi mempertahankan Negara-Negara Arab ketika mereka difitnah oleh pers barat ( lihat Islam Dan Demokrasi p. 26).
Dalam kebanyakan karyanya, dia mencoba untuk menggambarkan bahwa pengajaran religius dapat dengan mudah digerakkan dan untuk alasan itu, dia percaya bahwa tekanan (kepada) perempuan bukanlah bagian dari pengajaran Islam yang sesungguhnya. Itulah mengapa dia hati-hati untuk tidak menentang tradisi suci. Kebanyakan dari artikel nya mengenai perempuan menyatakan masalah-masalah ini. Kita dapat lihat ini, sebagai contoh, di dalam buku nya Rebellion's Women and Islamic Memory (Pemberontakan para Wanita Dan Memori Islam), ( London& New Jersey: Zed Buku, 1996).

Judul Novel Karya Fatima Mernissi diantaranya adalah Ahlam Nisa Al-Harim


Biografi Ibnu Thufail[2]

Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abd al- Malik Ibnu Muhammad Ibnu Thufail (latin, Abubacer) pemuka besar pertama pemikiran filosofis Muwahhid dari Spanyol. Ia dilahirkan di Guadix, provinsi Granada, ia termauk dalam keluarga suku arab terkemuka Qais. Dalam bahasa latin ia lebih populer dengan sebutan Abu Bacer. Ibnu Thufail meninggal di Maroko pada tahun 581 H/1185 M.
Ibnu Thufail memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Selain sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astonomi dan penyair yang sangat terkenal dari dinasti Al-Muwahhid spanyol. Ia mulai karirnya menjadi dokter praktek di Granada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia di angkat menjadi sekretaris Gubernur di Provinsi itu, kemudian ia diangkat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Geuta dan Tanqier oleh putra al-Mu’min (penguasa al-Muwaddin Spanyol), setelah itu ia diangkat menjadi dokter pemerintahan dan sekaligus menjadi Qodhi’.

Karya-karya Ibnu Thufai
Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filsuf, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari Muwaddin Spanyol, tapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yag dikenal orang.
Miguel Casiri (1122 H/1710 M-1205 H/1790 M) menyebutkan dua karya yang masih ada, yaitu: Risalah hay Ibn Yaqzhan dan Asrar al-Hikmah al- Mashriqiyyah, yang disebu terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asror menyebutkan bahwa itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzhan fi Asror al-Hikmah al-Mashriqiyyah.
Kata Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibn Sina kepada salah satu karya esoteriknya, tapi Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah roman filosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebenaran kisah ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan kedalam bahasa ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol. Bahkan pada zaman modern pun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap ada.4

Sekilas Tentang Hayy Bin Haqzhan
Roman ini diawali dengan kisah seorang bayi yang dihanyutkan ibunya (dalam versi lain, ia terlahir secara spontan karena keseimbangan unsure-unsur tanah) dan diasuh oleh seekor rusa betina disebuah pulau yang tidak berpenghuni, dibawah asuhan rusa tersebut, sibayi tumbuh layaknya anak manusia kebanyakan, baik fisik maupun psikisnya. Dalam menggunakan rasionya, ia mampu menangkap konsep-konsep filosofis sampai akhirnya ia mencapai puncak pengalaman sekstase mistik.

Biografi Kahlil Gibran[3]

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam. . Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.
Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.  
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab. Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya.
Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu. Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC. Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal. Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy.
Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya. Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis. Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya. Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell. Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.
 Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat. Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922. Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran. sayap sayap patah Biografi Kahlil GibranSalah satu buku karya Kahlil Gibran Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”. Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village. Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran. Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah. Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

Biografi Nawal El Saadawi[4]

Nawal El Saadawi adalah seorang  tokoh perempuan Mesir terkemuka, sosiolog, dokter dan penulis militan yang konsisten berbicara dalam isu-isu masalah wanita Arab atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan feminis. Beliau seorang penulis produktif  terkenal di dunia dan sudah banyak tulisan beliau yang menjadi inspirasi baik di timur maupun dibarat.   Ia lebih suka menulis dalam bahasa Arab dan tinggal di Mesir. lebih dari empat puluh buku fiksi dan non fiksi telah ia tulis. Ia merupakan salah satu penulis yang karyanya paling banyak diterjemahkan kedalam dua belas bahasa dunia. Novel dan buku-bukunya tentang  perempuan (feminisme) memiliki efek yang mendalam pada generasi ke generasi secara berturut-turut  baik perempuan muda dan laki-laki selama lima dekade terakhir.
Nawal El Saadawi lahir pada 27 0ktober 1931 di Kafr Tahla, sebuah desa kecil di luar Kairo. El Sa’adawi dibesarkan dalam keluarga besar dengan delapan bersaudara. Keluarganya  relatif tradisional, religius, dan hidup berkembang dalam kondisi negara yang berada dalam tekanan kolonial. Saat umurnya menginjak usia enam tahun ia "disunat", namun agak progresif dan menolak. Ayahnya seorang serjana perguruaan tinggi, terdidik dan sangat menghargai pendidikan sehingga tidak aneh kalau Ayah El Sa’adawi bersikeras dalam mendidik semua anak-anaknya meskipun Sa’adawi sering  berdebat mengapa saudara lelakinya harus memiliki pendidikan lebih tinggi dari padanya. pada tahun 1937 ayahnya menjabat sebagai pengawas umum pendidikan untuk provinsi Minufia di daerah Delta, wilayah yang terletak disebelah utara Kota Kairo.
Tidak hanya Ayahnya, Ibu El Saadawi juga sorang perempuaan yang terdidik. Ia menggambarkan sosok Ibunya sebagai "seorang revolusioner potensial dalam sejarah hidupnya." Ibunya meninggal ketika ia berumur 25 tahun, dan  tak lama setelah itu Ayahnya menyusul ibunya, keduanya tidak dapat menyaksikan prestasi yang luar biasa putri mereka sebagai pahlawan perempuan Arab.
Semasa kecilnya El Saadawi menyelesaikan pendidikannya pada sekolah dasar, sekolah menengah dan sekolah tingginya di negeri kelahirannya Mesir. Ia berbeda dengan sastrawan ataupun intelektual Mesir lain yang sezamannya, kebanyakan dari mereka  menghabiskan masa studinya di luar negeri. Setelah temat di sekolah menengah, Nawal El Saadawi memilih Fakultas Kedokteran Kairo, sebuah Fakultas yang hanya diambil oleh kaum lelaki tetapi justru itu yang di hendaki El Saadawi. tampaknya jiwa kritis Nawal sudah dimulai sejak ia tumbuh dalam kehidupan bekeluarganya waktu itu.
Meskipun pembatasan yang dikenakan oleh patriarki tradisi kebudayaan arab dan penguasa kolonial pada perempuan pedesaan, El Saadawi masih bisa menempuh studi di Universitas Kairo dan lulus pada tahun 1955 dengan gelar dokter dalam psikiatri. Ia menjadi lulusan terbaik dari 50 orang perempuan diantara  ratusan mahasiswa lelaki pada tahun kelulusannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, El Saadawi membuka praktek psikiatri mengabdi pada negara dan akhirnya naik menjadi Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir. El Saadawi bertemu suaminya Sheriff Hetata yang sama-sama berprofesi seorang dokter, saat bekerja di Departemen Kesehatan di mana keduanya berbagi kantor bersama-sama. Mereka menikah pada tahun 1964 dan memiliki seorang putra dan seorang putri. Hetata bersama El Saadawi  dipenjara selama 13 tahun atas partisipasinya dalam partai oposisi sayap kiri.
Sebagai seorang intelektual sekaligus pejuang hak-hak perempuaan, El Saadawi beberapa kali mengadakan kegiatan ilmiah, antara lain; penelitiaan dan observasi sosial tentang perempuaan, terutama masalah tentang bias gender ataupun ketidakadilan gender. Pada tahun 1969 ia melakukan observasi dan perjalanan ilmiah ke Sudan. perjalanannya kesudan ini dalam rangka melihat lebih dekat praktek-praktek penyunatan terhadap perempuaan yang dilakukan secara tradisional, menyakitkan dan sangat berbahaya terhadap keselamatan bagi perempuaan itu sendiri.
Ia mulai menulis lebih dari 25 tahun yang lalu saat ia melakukan praktek medisnya sebagai seorang dokter dan disana banyak mengamati masalah perempuan fisik, psikologis lalu menghubungkan mereka dengan praktek-praktek budaya yang menindas, penindasan patriarkal, penindasan kelas dan penindasan imperialis , karya buku El Saadawi ini (27 di semua) telah berkonsentrasi pada perempuan, terutama perempuan Arab, seksualitas dan status hukum mereka. Sejak awal, tulisan-tulisannya dianggap kontroversial dan berbahaya bagi masyarakat, dan dilarang di Mesir. konsekuensinyanya, El Saadawi terpaksa untuk menerbitkan karya-karyanya di Beirut, Lebanon.
Pada tahun 1972, tulisan pertamanya dalam buku non-fiksi, Perempuan dan Masalah Seks sebagai judulnya. Semua karyanya saat itu terkait dengan subjek yang sangat tabu; yakni tentang feminisme, gender, perempuan dan seksualitas, dan juga subyek sensitif, patriarki budaya, politik dan agama. Nawal El Sa’dawi melihat problem diskriminasi wanita sebagai masalah struktural yang sama peliknya dengan masalah negara. Dalam buku al-Mar’ah wa al-Jins tadi (Perempuan dan Masalah Sex), El Saadawi memberikan potret sosial bangsa Arab yang lusuh dan cara pandang negatif kaum lelakinya tentang perempuan dan sex. Publikasi ini membangkitkan kemarahan otoritas politik dan teologis saat itu, dan Departemen Kesehatan memaksanya untuk memundurkan diri dan memecatnya. Di bawah tekanan yang sama ia kehilangan posisinya sebagai Pemimpin Redaksi sebuah jurnal kesehatan dan sebagai Asisten Sekretaris Jenderal di Asosiasi Medis di Mesir.
Dari tahun 1973 sampai 1976 ia menjadi sorang peneliti perempuan dan neurosis di Fakultas Ain Syams University of Medicine. Hasil penelitiaanya dipublikasikan Perempuan dan Neurosis di Mesir Pada tahun 1976 dengan judul Perempuaan dan Neeurosis, termasuk memasukan  20 study  penelitiaan yang mendalam tentang kasus perempuan di penjara-penjara dan rumah sakit. Penelitian ini juga memberinya inspirasi untuk menulis novelnya yang terkenal yakni novelnya Perempuan di Titik Nol, yang didasarkan pada perempuan terpidana mati yang dihukum karena membunuh suaminya bahwa dia bertemu ketika melakukan penelitian tersebut.
 Pada tahun 1977, ia menerbitkan karya yang paling terkenal, The Hidden Face Hawa, yang meliputi sejumlah topik relatif terhadap wanita Arab seperti agresi terhadap anak-anak perempuan dan pemotongan alat kelamin perempuan, prostitusi, hubungan seksual, perkawinan dan perceraian dan fundamentalisme Islam. Dari 1979-180 El Saadawi menjabat sebagai penasehat PBB untuk Program Perempuan di Afrika (ECA) dan Timur Tengah (ECWA).
Kemudian pada tahun 1980, sebagai puncak dari perang lama ia berjuang untuk kemerdekaan perempuan Mesir dalam segala aspek, terutama dalam aspek sosial dan intelektual. semua kegiatan/ekspresi perempuaan telah ditutup, perempuan tidak mempunyai hak dan peranannya dalam membangun negara karena tempatnya hanya dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga, perempuaan dipenjarakan di bawah rezim Sadat, atas tuduhan "kejahatan terhadap negara . " El Saadawi menyatakan "Saya ditangkap karena saya percaya Sadat Dia mengatakan ada demokrasi dan kami memiliki sistem multi-partai dan Anda bisa mengkritik.. Jadi saya mulai mengkritik kebijakannya dan saya mendarat di penjara." Meskipun dalam penjara, El Saadawi terus melawan penindasan.
Pada tahun 1981 El Saadawi membentuk AWSA (Solidaritas Perempuan Arab Association). Para AWSA (Arabic Women's Solidarity Association) adalah hukum pertama, organisasi feminis independen di Mesir. Organisasi memiliki 500 anggota lokal dan lebih dari 2.000 anggota secara internasional. Asosiasi ini menyelenggarakan konferensi internasional dan seminar, menerbitkan majalah dan telah mulai menghasilkan pendapatan proyek untuk perempuan di daerah pedesaan. Para AWSA dilarang pada tahun 1991 setelah mengkritik keterlibatan AS dalam Perang Teluk. El Saadawi merasa konflik irak dan libanon (perang teluk) seharusnya diselesaikan di antara orang Arab. tujuaan dari didirikannya organisasi ini adalah untuk mengupayakan kekuatan politik yang memperjuangkan kepentingan dan apresiasi kaum perempuaan. pada tahun 1985 organisasi AWSA  telah mendapatkan pengakuaan resmi dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB sebagi organisasi non Pemerintahan (NGO) Arab.
Meskipun ia menyangkal pena dan kertas, El Saadawi terus menulis di penjara, menggunakan "pensil alis pendek hitam" dan "gulungan kecil kertas toilet tua dan compang-camping." Dia dirilis bebas pada tahun 1982, dan pada tahun 1983 ia menerbitkan Memoirs dari Penjara Wanita, di mana ia melanjutkan serangan kritiknyanya pada pemerintah Mesir represif. Dalam kata penutup memoarnya, dia mencatat banyak sifat korup pemerintah negaranya, bahaya penerbitan dalam kondisi otoriter seperti itu dan tekadnya untuk terus menulis kebenaran.
Bahkan setelah dia dibebaskan dari penjara, kehidupan El Saadawi itu terancam oleh orang-orang yang menentang pekerjaannya,  terutama kaum Islam fundamentalis, dan penjaga bersenjata ditempatkan di luar rumahnya di Giza selama beberapa tahun sampai dia meninggalkan negara untuk menjadi profesor tamu di universitas di Amerika Utara . El Saadawi adalah penulis di tinggal di Asia dan Afrika Departemen Bahasa Duke University dari 1993-1996. Dia juga mengajar di Washington State University di Seattle.
Pada tanggal 15 Juni 1991, pemerintah mengeluarkan dekrit yang menutup AWSA Solidaritas Perempuan Arab Asosiasi atas nama ia sebagai pemimpinnya. kemudiaan El Saadawi mencari keadilan dengan  memeja hijaukan pemerintah Mesir akan tetapi usahanya sia-sia dan gagal total. Enam bulan sebelum Keputusan ini pemerintah menutup dan menjegal Zuhur majalahnya, yakni majalah Nun yang menjadi poros suara para aktivis AWSA diterbitkan oleh Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab. Dia adalah editor-in-chief dari majalah tersebut. detik-detik berakhirnya organisasi tersebut, Nawal El Saadawi menulis karyanya pada sebuah buku yang berjudul ma'rakah jadidah fi qadhiyatil mara'h ( medan baru bagi persoalan-persoalan perempuaan). pada karya ini ia ingin menunjukan kepada masyarakat terutama pemerintahan mesir bahwa organisasinya tersebut banyak didukung oleh mayarakat dunia.
Selama musim panas 2001, tiga buku-bukunya dilarang di Kairo Buku International Fair. Dia dituduh murtad pada tahun 2002 oleh seorang pengacara fundamentalis yang mengangkat kasus pengadilan terhadapnya secara paksa bercerai dari suaminya, Dr Sheriff Hetata. Dia memenangkan kasus karena di dukung asosiasi perempuaan Mesir, Arab dan solidaritas internasional. Pada tanggal 28 Januari 2007, Nawal El Saadawi dan putrinya Mona Helmy, seorang penyair dan penulis, dituduh murtad dan diinterogasi oleh Jaksa Penuntut Umum di Kairo karena tulisan-tulisan mereka untuk menghormati nama ibu.
Mereka memenangkan kasus pada 2008. Upaya mereka menyebabkan hukum baru dari anak di Mesir pada 2008, memberi anak-anak lahir di luar pernikahan yang tepat untuk membawa nama ibu. Juga PKW dilarang di Mesir oleh hukum ini di tahun 2008. Nawal El Saadawi sedang menulis dan berjuang menentang PKW selama lebih dari lima puluh tahun.
Masalah marjinalisasi, diskriminasi, dan penindasan terhadap perempuan, menurut Nawal El Sa’dawi tidak bisa diselesaikan lewat persamaan sex atau apa lagi lewat agama. Persoalan wanita sangat kompleks, erat kaitannya dengan masalah global ekonomi dan politik sebuah negara. Wanita tertindas karena struktur patriarkal sosial Arab yang terwarisi turun-temurun. Tradisi Arab cenderung merendahkan wanita. Dalam tradisi agama, wanita dihargai setengah, dan yang setengah itupun selalu dihalang-halangi untuk berperan dalam masyarakat secara bebas.85 Dalam artikel khusus yang disiapkan untuk pembaca berbahasa Inggris, Women and Islam, El Sa’dawi menyamakan persoalan wanita dengan masalah keterbelakangan. Menurut El Sa’dawi: “Keduanya bukan masalah agama sebagaimana yang selalu dikatakan oleh kalangan fundamentalis, tetapi masalahnya berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan politik negara.”
Sebagai seorang tokoh yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak perempuaan dan aktivis pergerakan pembebasan kaum perempuaan, El Saadawi bahu membahu untuk mengadvokasikan kepada kaum perempuaan di dunia bahwa  pembebasan kaum perempuan dari patriarki budaya masyarakat dan belenggu sistem sosial yang ada, hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuaan itu sendiri. Perempuaan harus kuat di mulai dari pribadinya masing-masing. menurut beliau perempuaan harus bisa terbebaskan dan berani menyikap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan. sehingga nantinya akan muncul sebuaah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki.
Konsep pemikiran Nawal El Sadaawi tentang feminisme bisa dilihat dari tujuan ia mendirikan organisasi perempuan yang ia dirikan AWSA (Arabic Women's Solidarity Association). menurut asumsinya feminisme adalah penyikapan tabir yang menelimuti pikiran kaum perempuaan. El Saadawi dalam mengungkapkan pemikirannya tidak jarang harus menolak norma-norma yang telah mapan. bahkan ia berani bersebrangan dengan pemerintahan Mesir dan menjadikannya sebagai oposisinya terhadap segala kebijakan pemerintah, tradisi masyarakat yang bertentangan dengan nalar dan keyakinannya beserta tidak menguntungkan bagi perjuangan kaum perempuan. Tentu itu semua harus dibayar dengan harga mahal dan ada pengorbanannya, ia sering keluar masuk penjara, banyak sekali teror dan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. kini El Sadawi menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan Amerika dan sesekali berkunjung ke tanah kelahirannya di Mesir.
Nawal El Saadawi memiliki beban psikologis tentang asumsi berlebihan atas permasalahan dominasi dan otoritas gender. Ia ingin berontak dari sebuah sistem patriarkal mapan, meski dengan cara dan metode radikal yang lebih menekankan pada peran dan faktor ekonomi-politik. Yang menarik, dan merisihkan mungkin, adanya personalitas ganda dalam memandang kaum lelaki yang bersifat ambivalen. Pada suatu sisi, lelaki dilihat dan digambarkan sebagai penguasa dan penyebab diskriminasi seksual, di sini, pemberontakan perempuan dilihat sebagai pemberontakan terhadap kuasa lelaki. Pada sisi lain, lelaki juga dilihat sebagai korban “imaginasi social”, yang selanjutnya, dalam hal ini, ia menjadi rekan senasib perempuan; adanya eksploitasi kelas, dalam wacana feminisme Arab tidak ubahnya dengan otoritas agama, pada satu pihak sebagai justifikasi untuk perlawanan terhadap sebuah sistem, dan pada pihak lain sebagai penghalang untuk kebebasan wanita.
Nawal El Saadawi telah diberikan beberapa hadiah sastra nasional dan internasional, mengajar di banyak universitas, dan berpartisipasi dalam konferensi internasional dan nasional. Pada tanggal 3 Mei 2009, di New York ia mempresentasikan Kuliah Arthur Miller di Festival Sastra Pena Internasional. El Saadawi terus mencurahkan waktunya untuk menjadi pembicara penulis, wartawan dan seluruh dunia pada isu-isu perempuan. Proyek saat ini adalah menulis otobiografinya, bekerja lebih dari itu 10 jam selama sehari.

Judul-judul Novel Karya Nawal El Saadawi
Al-Ghaib, Mudzakarat Thabibah, Mudzakarat fii Sijni Nisa, Al-Aghniyat Ad-Dairiyahh, Hanan Qalil, Al-Warthah, Jannat wa Iblis, dan Mautu Ar-Rajul Al-Wahid ‘Ala Al-Ardhi

Biografi Najib Mahfudh[5]

Najib Mahfudh adalah satu-satunya Novelis Arab berkebangsaan Mesir yang berhasil meraih penghargaan Nobel di bidang sastra tahun 1988, dan termasuk salah seorang penulis sastra Arab terkenal disamping tokoh-tokoh lainnya, seperti Taufiq Al-Hakim. Namanya ditempatkan dalam jajaran tokoh sastra dunia yang telah berhasil menghasilkan karya spektakuler, seperti Orhan Pamuk (Turki), Nadine Gordimer (Afrika Selatan), Kenzaburo Oe (Jepang) dan masih banyak yang lainnya. Penulis Biografi Mahfudh, Raymond Stock pernah menulis,”Menurut saya, ia melampaui kehebatan para (penulis) Barat”.
Mahfudh dilahirkan di distrik Gamaliyah, belakang makam Sayyidina Husein, di Kairo Lama pada tanggal 11 Desember 1911, dari sebuah keluarga miskin Muslim. Beliau adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, ayah beliau seorang pegawai negeri yang dilukiskannya sebagai “Seorang yang Jumud”. Di waktu kecil, Beliau sering diajak oleh ibunya ke Museum Sejarah Mesir, yang kemudian menjadi tema utama dalam setiap buku-bukunya. Revolusi Mesir yang terjadi pada tahun 1919 mempunyai pengaruh yang kuat pada seorang Najib Mahfudh, meskipun baru berumur tujuh tahun. Dari jendela rumahnya, dia sering melihat tentara Inggris menembaki para demonstran.
Ini yang menjadikan karya-karyanya yang tidak pernah sepi dari unsur politik. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Mahfudh masuk Universitas Raja Fuad I yang dikenal sekarang dengan nama Universitas Cairo, di mana dia belajar Filosofi dan lulus pada tahun 1934. Tahun 1936, Mahfudh memutuskan untuk menjadi penulis professional. Ini dibuktikan dengan menjadi wartawan di Koran Ar-Risalah dan memiliki kontribusi yang luar biasa untuk Koran Al-Hilal dan Al-Haram. Karir selanjutnya yang dirintis adalah menjadi staf pada Kantor Kementerian Agama dan Urusan Wakaf, kemudian dipindahtugaskan ke Kantor Kementerian Kebudayaan sebagai penanggung jawab untuk industri perfilman. Beliau juga pernah menjabat sebagai Konsultan pada Kementerian Kebudayaan dan pensiun pada tahun 1972, serta pernah pula menjadi Anggota Dewan di penerbit Dar Al-Ma’arif. Beliau memilih hidup dalam keadaaan bujang sampai umur 43 tahun, dan menikah setelah itu pada tahun 1954, serta menghasilkan dua anak perempuan. Najib Mahfudh dalam perjalanan hidupnya pernah menentang Ayatullah Khomeini karena mengeluarkan fatwa “Hukum Mati” terhadap Salman Rushdie pada tahun 1989, yang mencaci maki Islam dalam “Satanic Verses”. Karena dalam pandangannya, seseorang memiliki kebebasan dalam berekspresi, namun ia juga mengkritik tulisan Salman Rushdie karena dianggap menghina Islam. Di samping itu, karya-karyanya juga banyak yang berisi kritikan termasuk yang berhubungan dengan agama, seperti “Awlad Haaratina” yang kemudian dilarang terbit oleh Al-Azhar. Tindakannya ini, membuat kelompok Islam Radikal marah, dan pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap dirinya tahun 1994, dengan menikam pundaknya. Setelah kejadian tersebut, Mahfudh mengalami masa-masa sulit dari hidupnya sebagai penulis. Sehingga menghasilkan karya yang sangat sedikit. Pada awal tahun 1996, karyanya kembali muncul yang ditulis oleh Ahmad Kamal Abu Al-Majd. Sampai kematian menjemput dirinya, Mahfudh hidup dalam keadaan fisik yang sangat sulit, tetapi semangat yang terpancar dari dirinya adalah gambaran kekuatan seorang penulis besar. Karya dan Pandangan Tahun 1950, Beliau bekerja untuk karyanya yang spektakuler yang dikenal dengan “Trilogi Cairo” (Bayn Al-Qashrain, Qashr Al-Syawq, Al-Sukkariyyah), yang melambungkan namanya di seantero dunia Arab. Berkat karya trilogi itu, ia dikenal sebagai pemerhati kehidupan masyarakat urban tradisional.
Di era pasca Revolusi 1952, ia kerap menyusupkan pandangan politiknya secara terselubung dalam wujud kiasan dan simbol di setiap tulisannya. Awlad Haaratina (anak-anak Gabalawi) yang terbit tahun 1959 merupakan karya terbaiknya. Novel ini menceritakan seorang Gabalawi yang memutuskan untuk beristirahat dan menyerahkan pengaturan tanah wakaf kepada seorang anaknya. Tanah itu adalah sumber kehidupan orang kampung sekaligus pangkal malapetaka. Wakaf bukan untuk dikuasai sepihak, tapi dimanfaatkan bersama, sebagaimana dunia adalah wakaf Tuhan untuk manusia. Dan petaka mulai ketika muncul hasrat tamak ingin menguasai tanah wakaf, dan ketika terjadi pelanggaran terhadap sepuluh syarat yang telah ditetapkan oleh Gabalawi sebagai pemilik asal, sebagaimana pelanggaran manusia terhadap sepuluh perintah Tuhan. Novel ini dilarang dilarang di seluruh dunia Arab kecuali di Libanon, karena dianggap menggambarkan Allah dalam perilaku manusia.
Tsartsarah Fauqa An-Nil (Terombang-ambing di Nil) yang terbit tahun 1966 adalah salah satu novelnya yang populer. Dan pernah diangkat ke layar lebar yang dibintangi oleh Super Star Mesir seperti Imad Hamdi, Ahmad Ramzi, dan Adel Adham. Alur ceritanya adalah bagian dari kritik sosial pada masa Gamal Abdul Naser. Lalu pada masa Anwar Sadat, dilakukanlah pembredelan terhadap karyanya ini untuk mencegah timbulnya provokasi terhadap orang-orang Mesir yang masih mencintai Gamal Abdul Naser. Sebagian besar dalam tulisan Mahfudh selalu berisikan tentang politik. Beliau dalam karya-karyanya juga menggabungkan pengaruh intelektual budaya Timur dan Barat serta juga tertarik dengan sosialis demokratis. Meninggal Dunia Najib mahfudh menghembuskan nafas terakhir pada usia 94 tahun, tepatnya pada pagi hari ini (Rabu, 30 Agustus 2006) di Rumah Sakit Kepolisian Mesir, di Agouzah.
Mahfouz dirawat di Rumah Sakit Kepolisian sejak 10 Agustus akibat sakit paru-paru dan ginjal. Dari keterangan teman dekatnya, Mahfuz diketahui mengalami gagal jantung. Meski dokter berhasil membuatnya siuman, jantungnya benar-benar berhenti berfungsi. Kondisi Mahfuz memang merosot drastis sejak dua bulan sebelum kematiannya. Pada pertengahan Juli 2006, ia sempat dilarikan ke rumah sakit lantaran mengidap masalah ginjal, pneumonia, dan berbagai penyakit terkait dengan usianya. Kemudian, pada 14 Agustus 2006 ia dibawa ke ruang gawat darurat dengan kondisi kritis kendati sempat membaik beberapa hari. Mahfudh dimakamkan ala militer di Masjid Al-Rashdan, Nasr City, Cairo, dan dihadiri Presiden Husni Mubarak.

Biografi Taufiq eL Hakim[6]

Dr. Taufiq El Hakim, sastrawan besar dengan reputasi internasional ini, lahir, bertumbuh dan besar di Mesir. Ia dilahirkan pada musim panas, 1903 di Dahiyatur-Raml, Iskandaria, Mesir. Ayahnya, Ismail Beik El Hakim adalah seorang petani kaya raya. Adapun ibunya adalah perempuan cantik putri perwira tinggi Turki.
Ketika terjadi pergolakan nasional di Mesir, pada tahun 1919, Taufiq sempat dijebloskan ke penjara karena turut terlibat di dalamnya bersama pamannya, Hasan. Taufiq terlibat dalam pergolakan itu di bawah pimpinan Sa'd Zaglul. Penjara rupa-rupanya menjadi guru terbaik Taufiq dalam mengembangkan pola pikir dan imaji-kreatifitasnya. Sehingga selepas keluar dari penjara, ia pun bersungguh-sungguh mengembangkan bakat menulisnya. Ia menulis apa saja yang ada di batok kepalanya.
Pada tahun 1920, Taufiq memperoleh ijazah kafaah (kredibel), kemudian pada 1922 ia memperoleh ijazah sarjana muda, dan pada tahun 1925 ia memperoleh ijazah penuh dalam bidang hukum sebagaimana impian ibunya. Selama studi hukum itu, Taufiq biasa menulis naskah drama untuk dimainkan oleh Teater Uzbek.
Usai memperoleh gelar sarjana penuh di bidang hukum, Taufiq sempat memperdalam lagi studi hukumnya di Perancis, selama kurang lebih tiga tahun, dan kembali ke Mesir pada tahun 1928. Sepulangnya dari Perancis, Taufiq bukannya meniti karier secara serius di bidang hukum, ia malah kian hobi menulis naskah drama dan kemudian mementaskannya dengan kelompok-kelompok teater yang dibentuknya.
Pementasan naskah dramanya berjudul "Ahlul Kahfi" (Penghuni Gua) yang terilhami dari Al-Quran surat Al-Kahfi, pada tahun 1932, begitu menggemparkan Mesir karena dianggap sebagai pelopor drama kontemporer di Mesir.
Tak kurang pengamat sastra Thaha Husein dalam harian Al Wadi', menyejajarkan karya tersebut dengan karya sastrawan Barat. Semsntara harian Al Balag, menyejajarkan karya itu dengan karya sastrawan Belgia yang memperoleh Nobel sastra pada 1911, Maurice Masterlinck. Sejak itulah nama Taufiq el Hakim dikenal luas oleh publik Mesir.
Nama Taufiq semakin melambung ke puncak tangga popularitas, ketika dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1934, ia mengeluarkan naskah drama yang berjudul "Syahrazad" (Kisah Seribu Satu Malam). Naskah ia banyak mendapat tanggapan dari kalangan sastrawan. Tak selang berapa lama kemudian, novel perdananya, "Audaturruuh" (kembalinya Sang Arwah) pun meluncur di pasaran. Novel itu pun mendulang sukses besar. Kapasitasnya sebagai novelis segera diakui banyak kalangan.
Kesuksesan di bidang sastra itulah, yang kemudian membuat Taufiq berfikir ulang tentang kariernya. Pada tahun 1935, ia mengundurkan diri dari tempat kerjanya di Derpatemen Kehakiman, dan ia beralih ke Departemen Pendidikan, karena di bidang yang terakhir inilah ia merasa menemukan kecocokan. Tapi di Departemen Pendidikan ini ia hanya bertahan selama tiga tahun. Ia kemudian pindah ke Departemen Sosial pada tahun 1939, dan empat tahun kemudian mengundurkan diri pada tahun 1943. Semenjak kemundurannya dari Departemen Sosial ini, ia bertekad mengabdikan dirinya hanya di bidang sastra yang begitu dicintainya dan telah membesarkan namanya.
Pada tahun 1950, Taufiq diangkat sebagai Direktur Pustaka Nasional Mesir. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1955, Taufiq diangkat menjadi anggota dewan redaksi harian paling terkemuka di Mesir, Al Ahram, duduk bersama Najib Mahfouz, Dr. Louis Us, dan Dr. Aisha Abdurrahman. Pada tahun 1955 itu pula oleh rekan-rekannya diminta bergabung di Jamiyyatul Udaba Mesir, bersama dengan sastrawan terkemuka lainnya, semisal Dr. Thaha Husain, DR. Husain Fauzi, Mahmoud Taimur, Yahya haqqi, Kamil El Sanawi, Yusuf El Sibai, Najib Mahfouz, Ihsan Abdul Quddus, Abdurrahman El Sharqawi, dan Ahmad Bahauddin.
Perjalanan Taufiq ternyata tak cukup sampai di situ. Pada tahun 1956 ia diangkat menjadi anggota Majelis Tinggi Sastra dan Seni, dan akhirnya pada tahun 1959 ia menjadi wakil Mesir di UNESCO.
Taufiq El Hakim meninggal dunia pada tahun 1987 dengan mewariskan lebih dari 60 naskah drama Arab modern, 2 kumpulan cerpen dan 20 novel yang bermutu tinggi.

Judul-judul Novel karya Taufiq El hakim
Himar Hakim, Ariinillah, Usfur min Asy-Syarqi, Rihlat ilal Ghad,  Al-Malik Aw Daib, Nasyid Al-Ansyad, Rashashah fii Qalbi, Lailat Az-Zafaf,  Al-Aidi An-Naimah, As-Sulthan Al-Hair, Yaumiyyat An-Naib
Biografi Rajaa Al Sanea[7]
Dr. Rajaa Alsanea yang berasal dari keluarga dokter di Saudi Arabia adalah lulusan King Saud University dengan gelar sarjana di kedokteran gigi.
Buku pertamanya Girls of Riyadh yang sangat controversial ini langsung tidak boleh beredar di Saudi Arabia. Versi bajakannya yang beredar terus menerus menghebohkan dan telah menjadi best-seller di Timur Tengah.
Dr. Rajaa Al Sanea sekarang sedang menyelesaikan study masternya di Chicago.

Judul Novel Karya Rajaa Al Sanea adalah Banat Riyadh


Biografi Muhammad Husain Haekal[8] 

SEJAK masa mudanya Haekal tidak pernah  berhenti  menulis.  Disamping  masalah-masalah  politik  dan  kritik  sastra ia juga menulis  beberapa  biografi.  Dari  Kleopatra  sampai   kepada Mustafa  Kamil  di  Timur,  dari Shakespeare, Shelley, Anatole France, Taine sampai kepada Jean Jacques Rousseau dengan  gaya yang  khas  dan  sudah  cukup  dikenal. Setelah mencapai lebih setengah  abad   usianya,   perhatiannya   dicurahkan   kepada masalah-masalah Islam. Ditulisnya bukunya yang kemudian sangat terkenal, Hayat Muhammad  (Sejarah  Hidup  Muhammad)  dan  "DiLembah  Wahyu".  "Dua  buku yang sungguh indah dan baru sekali dalam cara  menulis  sejarah  hidup  Muhammad,  yang  kemudian dilanjutkan dengan studi lain tentang Abu Bakr dan Umar. Suatu contoh   bernilai,   baik   mengenai   studinya   atau    cara penulisannya.  Ini  merupakan  masa  transisi dalam hidupnya", demikian antara lain orang menulis tentang Haekal.
            Pada mulanya Sejarah  Hidup  Muhammad  ini  telah  menimbulkanreaksi  hebat  dan  kritik  tajam di kalangan bangsa Mesir dan dunia Islam umumnya. Tapi semua itu dihadapinya dengan  tenang dan  di  mana perlu dijawabnya dengan penuh tanggung jawab dan rasional sekali.
            Dilahirkan di desa Kafr Ghanam bilangan  distrik  Sinbillawain di  propinsi  Daqahlia,  di delta Nil, Mesir, 20 Agustus 1888, Muhammad Husain Haekal, setelah selesai belajar mengaji Qur'an di  madrasah  desanya ia pindah ke Kairo guna memasuki sekolah dasar  lalu  sekolah  menengah  sampai  tahun  1905.  Kemudian meneruskan  belajar hukum hingga mencapai lisensi dalam bidang hukum (1909). Selanjutnya ia meneruskan ke Fakultas  Hukum  di Universite  de Paris di Perancis, lalu dilanjutkan pula sampai mencapai  tingkat  doktoral  dalam  ekonomi  dan  politik  dan memperoleh  Ph.  D.  dalam tahun 1912 dengan disertai La Dette Publique Egyptienne. Dalam tahun itu juga ia kembali ke  Mesir dan  bekerja  sebagai  pengacara  di kota Mansura, kemudian di Kairo sampai tahun 1922.
            Semasa  masih  mahasiswa   sampai   pada   waktu   menjalankan pekerjaannya  sebagai  pengacara, ia terus aktif menulis dalam harian-harian Al-Jarida yang  dipimpin  oleh  Ahmad  Lutfi  as Sayyid,  As-Sufur  dan  Al-Ahram.  Umumnya  ia  menulis  dalam masalah-masalah sosial dan politik, di samping juga memberikan kuliah dalam bidang ekonomi dan hukum perdata (1917-22). Tahun itu juga ia dipilih sebagai pemimpin redaksi  harian  As-Siasa sebagai   organ   resmi   Partai  Liberal.  Dalam  tahun  1926 mendirikan mingguan As-Siasa, yang dalam bidang kulturil besar sekali  pengaruhnya  ke  seluruh  negara-negara Arab. Ia aktif dalam bidang jurnalistik sampai tahun 1938.
            Karya-karya   Haekal   menduduki    tempat    penting    dalam perpustakaan-perpustakaan   berbahasa  Arab.  Penulisan  novel modern dimulai Haekal. Kemudian ia menulis serangkaian sejarah Islam   dan   biografi  di  samping  masalah-masalah  politik. Buku-bukunya dalam  sejarah  Islam  merupakan  sumber  penting dalam studi keislaman.
            karya-karya Haekal adalah sebagai berikut:
Zainab (novel),  1914,  Jean  Jacques  Rousseau  (dua  jilid), 1921-23;   Fi   Auqat'l-Firaqh   ("Diwaktu  senggang"),  1925; "Asyarata Ayyam fis-Sudan" 1927; Tarajim  Mishria  wa  Gharbia ("Biografi   orang  orang  Mesir  dan  Barat"),  1929;  Waladi ("Anakku"),  1931;  Thaurat'l-Adab,  1933  ;  Hayat   Muhammad ("Sejarah Hidup Muhammad"), 1935; Fi Manzil'l-Wahy ("Di lembah Wahyu"), 1937; Asy-Shiddiq Abu  Bakr,  1942;  Al  Faruq  'Umar ("'Umar  ibn'l-Khattab")  (dua  jilid).  1944-45;  Mudhakkirat fis-Siasat'l-Mishria ("Memoir  tentang  Politik  Mesir")  (dua jilid),   1951-53;   Hakadha   Khuliqat,  1955;  Al-Imbraturia al-Islamia  wal-Amakin   al-Mugaddasa   fisy-Syarq'   l-Aushat ("Commonwealth  Islam dan tempat-tempat Suci di Timur Tengah") (kumpulan studi), 1960; Asy-Syarq' l-Jadid  (kumpulan  studi), 1963;   'Uthman   bin   'Affan,   1964;  Al-Iman,  wal-Ma'rifa wal-Falsafa ("Tentang Iman, Ma'rifat dan Filsafat")  (kumpulan studi), 1965; Qisas Mishria ("Cerpen-cerpen Mesir"), 1969.
            Novelnya  Zainab,  yang  mengisahkan  kehidupan  petani Mesir, mula-mula ditulisnya semasa ia masih mahasiswa di  Paris,  dan pada  hari-hari  libur  sebagian  ditulisnya  di London dan di Jenewa, Swis;  telah  dibuat  film  dan  dalam  festival  film internasional di Jerman (1952) Die Liebesromanze der Zenab ini yang  ditulisnya  sebagai  kenangan  kepada  tanah   air   dan
masyarakat  di  kampungnya,  dalam dua kali pertunjukkan telah mendapat sambutan yang luar  biasa  dan  telah  terpilih  pula sebagai   film   yang   paling  berhasil,  dilukiskan  sebagai "Egyptische Welturauffuhrung in Berlin".
            Dalam tahun 1943 ia  terpilih  sebagai  ketua  Partai  Liberal Konstitusi  (Liberal  Constitutional  Party), yang dipegangnya sampai tahun 1952. Tahun  1938  ia  menjabat  Menteri  Negara,  kemudian  Menteri Pendidikan,  lalu  Menteri Sosial. Sesudah itu menjadi Menteri Pendidikan lagi dalam tahun  1940  dan  1944.  Pada  permulaan tahun  1945  ia  terpilih  sebagai  ketua Majelis Senat sampai tahun 1950.
            Berkali-kali mengetuai delegasi mewakili negaranya di PBB  dan dalam      konperensi-konperensi      internasional,     dalam Interparliamentary Union  dan  secara  pribadi  terpilih  pula sebagai anggota panitia eksekutif lembaga tersebut.

0 comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://nyiaran.blogspot.com/2014/02/cara-membuat-tombol-next-page-dengan.html#sthash.QFJYAl2c.dpuf