Pages

Minggu, 23 Desember 2012

Perbedaan Penelitian Agama dan Penelitiaan Keagamaan


Perbedaan Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan
Metode sering dikaitkan dengan kata-kata research atau penelitian, pengumpulan data atau cara memperoleh informasi, analisis data atau pendekatan, dan lain-lain lagi. Research atau penelitian –re = mengulang, search = pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan, atau penelitian- berarti cara mengulang untuk melakukan pencarian atau seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis mengenai pencarian data yang berkaitan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, disintesis, diambil kesimpulan, dan selanjutnya dicarikan pemecahannya.[1]
Penelitian adalah upaya mempelajari suatu masalah untuk menemukan jawaban atas masalah tersebut serta prinsip-prinsip umum berdasarkan data-data yang terkumpul. Penelitian ini bersifat sistematis, bersifat empiris, terkontrol, serta objektif.
Untuk melaksanakan penelitian diperlukan suatu langkah penelitian. Langkah-langkah penelitian secara minimal dapat ditetapkan dalam enam langkah. (1) Merumuskan permasalahan secara jelas; (2) Menentukan sumber informasi, baik yang bersifat primer maupun yang bersifat sekunder; (3) Mengumpulkan metode pengumpulan data dan cara memperoleh informasi; (4) Melaksanakan penelitian; (5) Mengolah data; (6) Menyusun laporan. Apabila langkah-langkah penelitian ini telah dilalui secara prosedural, secara teoritis, peneliti itu telah melakukan kegiatan secara ilmiah.[2]
Agama merupakan salah satu aspek atau unsur kehidupan yang harus dimiliki oleh manusia yang ada di dunia ini. Di dalam agama terdapat petunjuk tentang bagaimana cara menjalin hubungan dengan tuhan, cara menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan cara menjalin hubungan dengan alam yang kita tempati.
Agama secara bahasa berasal dari kata sankrit. Kata itu tersusun dari dua kata, a artinya tidak dan gam artinya pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun.[3]
Sedangkan secara istilah, kaum agamawan mendefinisikan agama sebagai suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk memegang peraturan Tuhan di atas pilihannya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan di akhirat.[4]
Di dunia ini ada dua macam agama yaitu agama samawi dan agama ardi. Agama samawi adalah agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu-Nya yang diturunkan kepada para rasul. Yang termasuk agama samawi antara lain Yahudi, Nasrani, dan Islam. Agama ardi adalah agama yang didasarkan pada hasil renungan mendalam dari tokoh yang membawanya sebagaiman terdokumentasi dalam kitab suci yang disusunnya. Yang termasuk agama ardi antara lain Hindu, Budha, Majusi, Kong Hucu, dan sebagainya.
Agama samawi mengandung dua kelompok ajaran. Ajaran pertama adalah ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para rasul-Nya kepada manusia. Ajaran dasar tersebut terdapat dalam kitab-kitab suci. Ajaran kedua adalah penjelasan-penjelasan para pemuka atau pakar agama terhadap ajaran dasar.
Misalnya agama Islam, Al-Quran menjadi kitab suci yang dijadikan ajaran dasar oleh orang Islam. Para ulama mendefinisikan Al-Quran sebagai berikut:
“Kalam Allah swt. yang diturunkan kepada nabi-Nya Muhammad saw.yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, memmbacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, mulai dari surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas”.[5]
Mengenai isi Al-Quran, Sayid Sabiq menganggap bahwa secara dimensional,    Al-Quran berisi tiga dimensi yaitu: (1) dimensi spiritual, (2) dimensi moral, dan      (3) dimensi sosial. Di dalam dimensi spiritual, ia membagi dalam sepuluh bagian, yaitu: (1) ingat kepada Allah, (b) cabang-cabang iman, (c) bahagia karena ikhlas, (d) bertawakal kepada Allah, (e) cinta dan benci karena Allah, (f) dengan syukur nikmat akan bertambah, (g) nilai dan dampak takwa dalam kontekstualisasi dan sosialisasi, (h) hanya ulama yang takut kepada Allah, (i) tidak putus asa dari rahmat Allah, dan (j) menyembah hanya kepada Allah. Di dalam dimensi moral, ia membagi dalam tujuh bagaian, yaitu: (a) berlomba-lomba berbuat kebaikan, (b) istikamah, (c) al-ihsan, (d) sifat malu, (e) menunaikan amannah, (f) berkata benar dan tidak dusta, dan (g) ramah tamah atau sopan santun. Di dalam dimensi sosial, ia membagi dlam delapan bagian, yaitu: (a) wanita dalam masyarakat, (b) wanita Islam berinteraksi, (c) orang tua kepada anak, (d) anak kepada orang tuanya, (e) lemah atau tertindas dalam masyarakat, (f) tata tertib dalam pergaulan, (g) kebiasaan saling mengucapkan salam, dan (i) hak-hak asasi manusia.[6]
Selain Al-Quran, yang menjadi pedoman bagi umat islam adalah Al-Sunah.      Al-Sunah mempunyai pengertian perkataan nabi (qauliyah), perbuatan nabi (fi’liyah), dan segala keadaan nabi (ahwaliyah).[7]
Al-Sunah mempunyai tugas sebagai berikut:
1.      Al-Sunah nilainya memberikan kekuatan sebagai penjelas Al-Quran, Al-Sunah disebut  “bayan taqrir”.
2.      Al-Sunah nialinya menjelaskan ayat Al-Quran yang masih mujmal atau musytarak, biasa disebut “bayan tafsir”.
3.      Al-Sunah nilainya menasakh Al-Quran, biasa disebut “bayan tabdil”.[8]

Selain Al-Quran dan Al-Sunah, yang menjadi sumber ajaran islam adalah Ijtihad. Ijtihad menurut Mahmud Syaltout merupakan:
a.       Pemikiran arti yang dikandung oleh Alquran dan Sunnah;
b.      Mendapat ketentuan hukum sesuatu yang tidak ditunjukan oleh nash dengan sesuatu masalah yang hukumnya ditetapkan oleh nash;
c.       Pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapat hukum syara’ amali tentang masalah yang tidak ditunjukan hukumnya oleh suatu nash secara langsung.[9]

Penelitian agama adalah penelitian tentang asal-usul agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya. (Juhaya S. Praja, 1997: 31-32)[10]

Penelitian agama lebih menitikberatkan dalam meneliti ajaran-ajaran agama yang merupakan penjelasan-penjelasan terhadap kitab-kitab suci atau ajaran-ajaran agama hasil budaya manusia. Oleh karena itu, penelitian dapat dilakukan sepenuhnya terhadap agama yang tergolong agama ardi, baik terhadap ajaran dasarnya maupun terhadap bentuk pengamalannya. Terhadap agama samawi hanya dapat meneliti ajaran yang merupakan penjelasan-penjelasan para pemuka atau pakar agama terhadap kitab suci (kalau dalam islam disebut Ijtihad), tidak pada ajaran dasar karena ajaran dasar bersifat mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah karena merupakan wahyu dari Tuhan.
Penelitian keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan manusia secara individual atau kolektif. Dengan kata lain, penelitian keagamaan lebih menitikberatkan penelitiannya terhadap agama sebagai produk interaksi sosial. Penelitian keagamaan ini meliputi:
1.      Perilaku individu dan hubungan individu tersebut dengan orang lain atau masyarakat yang didasarkan atas agama yang dianutnya.
2.      Seluruh perilaku masyarakat, baik perilaku politik, budaya, sosial, dan yang lainnya yang mengklaim dirinya sebagai penganut suatu agama.
3.      Pengaruh ajaran agama terhadap corak perilaku atau kebudayaan sosial suatu masyarakat.
Bentuk penelitian yang digunakan disesuaikan dengan perbedaan antara penelitian agama dan penelitian keagamaan. Djamari menjelaskan bahwa kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan, antara lain:
1. Analisa Sejarah
Sejarah hanya sebagai metode analisa atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsuur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan meneliti sunber klasik sebelum dicampuri yang lain. Sosiologi mencari pola hubungan antara kejadian sosial dan karakteristik agama.
2. Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola sosial keagamaan di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsur budaya tertentu atau kondisi sosio-kultural secara umum.
3. Eksperimen
Eksperimen hanya dapat dilakukan dalam beberapa hal saja, seperti untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model pendidikan agama.
4. Observasi Partisipatif
Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religius.
5. Riset Survei dan Analisis Statistik
Penelitian survei dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sampel dari suatu populasi.
6. Anlisis Isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencari keterangan dari tema-tema agama, baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks, dan yang lainnya.[11]





[1] Abdul Rozak. 2001. Cara Memahami Islam. Bandung:Gema Media Pustakatama. hlm. 27.

[2] Ibid. hlm. 29.
[3] Abdul Rozak. 2001. Cara Memahami Islam. Bandung:Gema Media Pustakatama. hlm. 39.
[4] Abuddi Nata. 2009. Metode Studi Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. hlm. 169.
[5] Rosihon Anwar. 2008. Ulum Al-Quran. Bandung:CV Pustaka Setia. hlm. 34.
[6] Abdul Rozak. 2001. Cara Memahami Islam. Bandung:Gema Media Pustakatama. hlm. 53.
[7] Supiana. 2010. Metode Studi Islam. hlm.94.
[8] Abdul Rozak. 2001. Cara Memahami Islam. Bandung:Gema Media Pustakatama. hlm. 56.
[9] Ibid. Hlm.120.
[10] Atang Abd. Hakim. 2008. Metode Studi Islam. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Hlm. 61.
[11] Atang Abd. Hakim. 2008. Metode Studi Islam. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Hlm. 64-66.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
- See more at: http://nyiaran.blogspot.com/2014/02/cara-membuat-tombol-next-page-dengan.html#sthash.QFJYAl2c.dpuf