Blogger Widgets

Minggu, 30 Desember 2012

Cerpen, Roman, dan Novel


Pengertian cerpen, roman, dan novel
Cerpen (cerita pendek) adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek, artinya cerita bentuk ini dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Selain itu, cerita bentuk ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. Ukuran tebal cerpen sekitar 5 sampai15 halaman.[1]
Roman adalah cerita berbentuk prosa yang panjangnya antara cerita pendek dan novel. Roman lebih luas cakupannya, baik dalam plot, tema, dan unsur-unsur yang lainnya uyang membentuk roman daripada cerita pendek. Namun apabila dibandingkan dengan novel, roman lebih pendek dari novel. Ukuran tebal roman sekitar 60 sampai 100 halaman.[2]
Novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang lebih luas, artinya cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, dan suasana cerita dan setting yang beragam. Ukuran tebal novel sekitar 200 halaman lebih.[3]

Unsur-unsur intrinsik novel
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur interinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Unsur-unsur intrinsik tersebut antara lain tema, alur /plot, setting (latar), penokohan, sudut pandang, gaya, dan amanat. Tema adalah ide sebuah cerita. Alur/plot adalah jalan cerita. Setting (latar) merupakan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Penokohan merupakan penggambaran karakter para tokoh dalam cerita, sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat yang dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang atau pengarang dalam memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada para pembaca.[4]
Klasifikasi tema[5]
1.      Tema tradisional
Tema tradisional adalah tema yang menunjuk pada tema yang telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, baik cerita sekarang maupun cerita lama. Tema tradisional merupakan tema yang digemari siapa pun, di manapun, dan kapan pun.
2.      Tema nontradisional
Tema nontradisional adalah tema yang menunjuk pada tema yang tidak lazim. Tema tradisional biasanya tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, mengesalkan, mengecewakan, atau reaksi yang berlawanan lainnya.
Tema menurut Shipley[6]
Menurut Shipley tema merupakan subjek wacana, topik umum, atau masalah utama yang dituangkan ke dalam cerita. Shipley membedakan tema-tema karya sastra ke dalam lima tingkatan mulai dari tingkatan yang paling sederhana hingga tingkatan yang paling tinggi. Tingkatan tema itu antara lain:
1.      Tema tingkat fisik. Tema karya sastra pada tingkat fisik lebih banyak ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan, lebih menekankan aktivitas fisik daripada konflik kejiwaan tokoh cerita yang bersangkutan.
2.      Tema tingkat organik. Tema karya sastra pada tingkat organik lebih banyak menyangkut dan mempersoalkan masalah seksualitas. Berbagai persoalan kehidupan seksual manusia mendapat penekanan yang lebih, khususnya seksual yang bersifat menyimpang.
3.      Tema tingkat sosial. Tema karya sastra pada tingkat sosial lebih banyak menyangkut masalah-maslah sosial, seperti masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih, hubungan atasan-bawahan, dan berbagai masalah sosial lainnya. Tema ini timbul karena manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat yang mengandung banyak permasalahan dan konflik.
4.      Tema tingkat egoik. Tema karya sastra pada tingkat egoik lebih banyak menyangkut masalah-masalah individualitas. Masalah individualitas itu antara lain berupa permasalahan egoisitas, martabat, harga diri, sifat dan sikap tertentu manusia sebagai makhluk individu lainnya, yang pada umumnya lebih bersifat batin dan dirasakan oleh yang bersangkutan. Masalah individualitas biasanya menunjukkan jati diri, citra diri, atau sosok kepribadian seseorang.
5.      Tema tingkat devine. Tema karya sastra pada tingkat devine lebih banyak menonjolkan masalah-masalah hubungan manusia dengan sang Pencipta, masalah religiositas, atau berbagai masalah yang bersifat filosofis.    


Amanat/pesan moral
Amanat/pesan moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya yang disampaikan lewat cerita. Amanat/ pesan moral pada umumnya mempunyai pengertian sebagai ajaran tentang baik buruj yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan sebagainya. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang tentang nilai-nilai kebenaran.[7]

Pengertian penokohan dalam cerita
Penokohan merupakan sifat yang melekat atau menjadi jati diri pada seorang tokoh. Menurut Abrams, tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.[8]

Pengertian alur/plot dan perbedaannya
Menurut Stanton, plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Menurut Kenny, plot dipandang sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat (kausalitas). Menurut Forster, plot adalah peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Alur adalah jalan cerita. Jalan cerita memuat kejadian. Adapun perbedaan antara alur dan plot adalah alur itu hanya merupakan sebuah jalan cerita sedangkan plot merupakan penggerak kejadian cerita yang di dalamnya terdapat hubungan sebab akibat (kausalitas) yang dapat menyebabkan atau menimbulkan kejadian lain.[9]
Unsur-unsur plot antara lain:[10]
1.      Pengenalan
2.      Timbulnya konflik
3.      Konflik memuncak
4.      Klimaks
5.      Pemecahan masalah 

Pengertian setting/latar dalam cerita[11]
Setting/latar adalah latar belakang fisik, unsure tempat, ruang dan waktu dalam suatu cerita. Latar dapat digunakan untuk beberapa tujuan antara lain:
1.      Suatu latar yang dapat dengan mudah dikenal kembali, dan yang dilukiskan dengan terang dan jelas, serta mudah diingat, biasanya digunakan untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan geraknya serta tindakannya.
2.      Latar suatu cerita dapat mempunyai suatu relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan arti yang umum dari suatu cerita.
3.      Latar itu dapat bekerja bagi maksud-maksud yang lebih tertentu dan terarah daripada menciptakan suatu suasana yang bermanfaat.

Pengertian gaya dalam cerita
Gaya dalam cerita adalah cara khas pengungkapan seseorang atau pengarang dalam memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita. Gaya adalah pribadi pengarang sebuah cerita. Gaya seorang pengarang akan berbeda dengan gaya pengarang lain dalam menyampaikan cerita. Ini disebabkan karena pribadi seseorang berbeda dengan pribadi orang lain.[12]

Pengertian sudut pandang
Menurut Abrams, sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang dalam menyajikan atau menggambarkan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat yang dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.[13]
Ada empat macam sudut pandang yang digunakan pengarang dalam menyajikan jalan cerita, yaitu:[14]
1.      Omniscient point of view (sudut penglihatan Yang Berkuasa). Dalam strategi ini pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Pengarang dapat menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai tujuan yang diinginkannya. Pengarang dapat mengemukakan perasaan, kesadaran, jalan pikiran ppara tokoh. Selain itu, pengarang juga dapat mengomentari kelakuan para pelakunya, bahkan dapat langsung bicara dengan pembacanya.
2.      Objective point of view. Dalam strategi ini pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi tanpa memberikan komentar apa pun. Pengarang tidak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dalam strategi ini partisipasi pembaca dalam menafsirkan apa yang diceritakan pengarang amat diharapkan. Pembaca dapat menafsirkan cerita berdasarkan kejadian, dialog, dan perbuatan pelaku-pelakunya.
3.      Point of view orang pertama. Dalam strategi ini pengarang dalam menceritakan jalan cerita menggunakan sudut pandang “aku”. Dalam strategi ini pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat, merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang langsung bersangkutan. Pengarang harus membedakan pandangan pengarang pribadi dengan pandangan si “aku” dalam cerita.
4.      Point of view peninjau. Dalam strategi ini pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Tokoh yang bercerita ini dapat bercerita tentang pendapatnya atau perasaannya sendiri. Strategi ini berupa penuturan pengalaman seseorang. Dalam strateg ini pengarang dalam menceritakan jalan cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga yaitu “dia”.


[1] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Op. Cit., hal. 30.
[2] Ibid., hal. 31.
[3] Ibid., hal. 29.
[4] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., hal. 23.
[5] Ibid., hal. 77-79.
[6] Ibid., hal. 80-82.
[7] Ibid., hal. 320.
[8] Ibid., hal. 165.
[9] Ibid., hal. 113.
[10] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Op. Cit., hal. 49.
[11] Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 1993), hal. 136.
[12] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Op. Cit., hal. 92.
[13] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., hal. 248.
[14] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Op. Cit., hal. 83-85.

0 komentar:

Poskan Komentar