Pages

Wednesday, October 24, 2012

Budaya Perokok Remaja


BAB I
PENDAHULUAN

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Salah satu kegiatan manusia dalam menjalankan roda kehidupannya adalah merokok. Seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia sudah sangat mengenal  benda yang merupakan lintingan tembakau yaitu rokok.  
Tak dapat dipungkiri bahwa industri rokok memang memberikan devisa yang cukup besar bagi negara kita. Cukup sulit untuk menghentikan kebiasaan merokok seseorang. Padahal, berbagai penyakit berbahaya dan pencemaran yang senantiasa menyertai para perokok aktif maupun pasif juga patut diperhitungkan dewasa ini, yang masih ditambah dengan berbagai pencemaran yang tentunya sudah cukup membuat kita merasa tidak nyaman dan tidak baik bagi kesehatan kita masing-masing.
Rokok, yang mana salah satu pintu gerbang ke dunia narkoba, tidak hanya beresiko pada penyakit dan pencemaran lingkungan. Bebasnya penjualan rokok di Indonesia memberikan kesempatan setiap orang untuk mencoba dan akhirnya terjerumus ke dalam pengaruh rokok. Tak terkecuali remaja dan pelajar. Remaja dan pelajar yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa, kini telah mengkonsumsi sesuatu yang seharusnya tidak mereka konsumsi, yaitu rokok. Namun, fenomena ini terjadi karena beberapa faktor yang sangat mendukung. Padahal, pada dasarnya para remaja tersebut telah mengetahui efek dari mengkonsumsi rokok tersebut.


BAB II
BUDAYA MEROKOK DI KALANGAN REMAJA

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti pemujaan dewa atau roh. Pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika (Christopher Colombus), sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Pada abad ke-17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu budaya merokok mulai masuk ke negara-negara Islam.
Budaya merokok zaman sekarang sudah melekat pada remaja di Indonesia baik yang tidak bersetatus sebagai pelajar maupun yang bersetatus sebagai pelajar. Banyak dari anak SMA terlebih anak SMP, bahkan sampai ke anak SD pun sudah banyak yang merokok. Banyak berita di televisi yang melaporkan tentang anak balita pun  sudah banyak yang merokok.
Rokok banyak mengandung zat-zat negatif yang dapat merusak organ tubuh kita secara perlahan-lahan. Maka dari itu saya sangat khawatir terhadap pergaulan anak muda zaman sekarang yang sudah hancur, mereka tidak sama sekali memikirkan kesehatan mereka dan mereka hanya mementingkan kesenangannya saja.
Banyak remaja sekarang dikalangan anak SMP dan SMA yang merokok hanya karena memikirkan gengsi di depan teman-temannya. Kata mereka “kalo gag ngerokok itu gag gaul”. Padahal mereka sendiri sudah tahu tentang bahaya rokok yang mengandung zat-zat negatif.
Namun, dalam fenomena ini banyak faktor yang memengaruhi seorang remaja memulai merokok. Di usia remaja, anak akan mempunyai banyak teman dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Di antara sekian banyak temannya, ada yang bisa membawa pengaruh positif atau sebaliknya membawa pengaruh buruk. Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh anak mungkin merupakan salah satu pengaruh buruk yang didapat dari teman-temannya.
Kebiasaan merokok pada orang tua berpengaruh besar pada anak-anaknya yang berusia remaja. Keluarga yang terbiasa dengan perilaku merokok atau tidak melarang perbuatan tersebut, sangat berperan untuk menjadikan seorang anak menjadi perokok dibandingkan dengan keluarga yang bukan perokok. Sangat mudah bagi anak untuk meniru kebiasaan merokok. Mengingat di negara kita kebiasaan merokok adalah suatu kebiasaan yang sudah sangat mengakar di berbagai golongan masyarakat, di mana pun tempatnya, kapan pun waktunya kita akan sangat mudah menjumpai orang-orang yang sedang merokok.
Setelah merokok itu menjadi kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan oleh para remaja baik non-pelajar maupun pelajar, maka kegiatan merokok akan menjadi kebutuhan yang melebihi kebutuhan akan makanan pokok. Menurut para remaja tersebut, lebih baik tidak makan seharian daripada tidak mengkonsumsi rokok. Banyak remaja tidak memikirkan bagaimana mereka mendapatkan sesuap nasi, malainkan mereka berpikir keras bagaimana mendapatkan sebatang rokok saja untuk mereka konsumsi. Banyak alasan mengapa orang termasuk para remja merokok, dintaranya, depresi. Mereka berfikir bahwa dengan merokok mereka merasa tenang, padahal nantinya mereka akan mengalami ketagihan akan rokok tersebut. Lalu kebudayaan merokok sangat erat dengan ‘Gaya’, mereka menganggap dengan merokok mereka akan lebih mudah untuk bergaul, terlihat gaya dan tidak cupu. Padahal tidak ada hubungannya gaul, atau gaya dengan merokok. Bahkan dengan merokok, orang – orang akan lebih mementingkan untuk membeli rokok dari pada membeli makan untuk keluarganya yang sekiranya tidak bisa makan. Mereka lebih memilih untuk menjalani kebudayaan hambur dan boros membeli barang yang begitu saja hilang tanpa ada kegunaan yang bersifat primer. Dengan sikap yang boros mereka akan terdidik dengan kebudayaan konsumtif, tanpa peduli dengan penderitaan sekitarnya. Dimulai dari kebudayaan yang kurang baik maka akan menghasilkan individu yang tidak baik di kedepannya.
Pada dasarnya merokok adalah pertama, racun yang menjadi “kebutuhan pokok”. Tidak dapat disangkal lagi, rokok adalah racun. Sekecil apapun kadar nikotin yang terkandung di dalam sebatang rokok, itu tetaplah racun yang merusak tubuh penghisapnya. Ironisnya, sekarang tidak sedikit remaja yang menjadikan racun tersebut sebagai “kebutuhan pokok” mereka. Para perokok remaja menambahkan daftar kebutuhan pokok mereka dengan sesuatu yang seharusnya bukanlah kebutuhan pokok, melainkan sebuah racun, yakni rokok. Kedua, para perokok remaja berusaha merusak di saat yang lain bersusah payah mengobati. Karena rokok pada hakikatnya adalah racun, maka pastilah rokok akan merusak tubuh manusia, cepat atau lambat. Ketiga, perokok remaja membayar biaya untuk merusak tubuh. Ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ada di antara mereka yang menghamburkan uangnya untuk kesenangan sesaat yang merusakkan tubuh mereka dan berakibat fatal di kemudian hari. Di saat mereka berjuang mencari sesuap nasi, batangan racun tetap saja ada di mulut mereka. Cobalah bayangkan, mereka harus mengeluarkan biaya untuk merusak tubuh mereka, dan nantinya mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi untuk mengobatinya. Keempat, menebar racun pada orang yang disayangi. Tidak jarang terlihat remaja yang merokok di depan pasangannya, di depan ibu dan bapaknya, di depan saudaranya, di depan teman-teman dan sahabat-sahabatnya. Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan adalah membunuh orang-orang di sekitar mereka secara perlahan-lahan. Tidak sedikit kasus perokok pasif yang harus menjadi korban pembunuhan para perokok. Kelima, merusak lingkungan yang mereka butuhkan. Setiap orang pasti memerlukan lingkungan yang sehat, setidaknya untuk oksigen yang harus mereka hirup untuk bertahan hidup. Sudah banyak orang yang mengatakan peduli pada lingkungan dan mencoba melestarikannya dengan menanam pohon, dan sebaginya. Tapi ironisnya, tidak sedikit pula dari mereka yang mengatakan peduli pada lingkungan, yang merusaknya dengan asap rokok yang mereka buang ke udara.


BAB III
KESIMPULAN

            Budaya merokok zaman sekarang sudah melekat pada remaja di Indonesia baik yang tidak bersetatus sebagai pelajar maupun yang bersetatus sebagai pelajar. Banyak dari anak SMA terlebih anak SMP, bahkan sampai ke anak SD pun sudah banyak yang merokok.
Faktor yang memengaruhi seorang remaja memulai merokok adalah teman-temannya yang terlebih dahulu merokok, kebiasaan merokok pada orang tuanya. Sangat mudah bagi anak untuk meniru kebiasaan merokok. Mengingat di negara kita kebiasaan merokok adalah suatu kebiasaan yang sudah sangat mengakar di berbagai golongan masyarakat, di mana pun tempatnya, kapan pun waktunya kita akan sangat mudah menjumpai orang-orang yang sedang merokok.
Para perokok remaja berfikir bahwa dengan merokok mereka merasa tenang. Lalu mereka menganggap dengan merokok mereka akan lebih mudah untuk bergaul, terlihat gaya dan tidak cupu.
Namun, pada dasarnya merokok adalah pertama, racun yang menjadi “kebutuhan pokok”. Kedua, para perokok remaja berusaha merusak di saat yang lain bersusah payah mengobati. Ketiga, perokok remaja membayar biaya untuk merusak tubuh. Keempat, menebar racun pada orang yang disayangi. Kelima, merusak lingkungan yang mereka butuhkan.



0 comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://nyiaran.blogspot.com/2014/02/cara-membuat-tombol-next-page-dengan.html#sthash.QFJYAl2c.dpuf